Senin, 29 Januari 2018

SOLUSI BUAT PEREMPUAN MUDA

Setelah diceraikan oleh suaminya, perempuan muda ini kembali berkumpul dengan keluarganya, dengan ibu dan adiknya. Mempunyai anak satu dengan tidak mempunyai penghasilan tentu menggalaukan pikirannya, sehingga berimbas memberikan masalah keluarga, yaitu ketidakharmonisan.

Kej. 2:24Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Dia yang harusnya sudah keluar meninggalkan lingkungan keluarganya, bersatu dengan suaminya, tidaklah baik untuk kembali ke rumahnya lagi, atau bahasa Alkitabnya: "menoleh ke belakang seperti istri Lot".

Lukas 17:32Ingatlah akan isteri Lot!

Sementara itu Alkitab juga memberitahukan bahwa tidak baik jika manusia itu seorang diri;

Kej. 2:18TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Harus ada penolong yang sepadan dengannya. Siapa penolong yang sepadan? Jelas suami-istri. Jika laki-laki harus beristri, jika perempuan harus bersuami. Sesuai juga dengan anjuran rasul Paulus;

1Korintus 7:2tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.

Perempuan muda itu membutuhkan seorang "penebus" yang akan membawanya keluar dari lingkungan sanak keluarganya, seorang "Musa" yang membawa keluar bangsa Israel dari negeri Mesir, seorang Boas yang menebus kejandaan Rut;

Rut 4:13

Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki.
4:14Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: "Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel.

Nah, siapakah yang bisa menjadi penyelesai masalah, penolong, penebus dan pelindung bagi Agnes Ellora Monalisa, 31 tahun ini? Silahkan menyurat ke saya: puteragembala_pg1@yahoo.co.id, supaya saya menyampaikan kepadanya;


Jadikan gambar sebaris

Sabtu, 20 Januari 2018

Lagu Rohani/Ditengah kesukaran

Makin dekat Tuhan

Oh Tuhan pimpinlah langkahku

Batu Karang Yang Teguh by Bram.flv

Vetry Kumaseh - Kenal Kau 'Kan Yesus (Official Music Video)

LOWONGAN MARKETING



Saat ini saya sedang mencari pekerjaan di bidang marketing, product development atau produksi (saya berpengalaman di bidang supervisor produksi selama 7th, 1 th service engineer, 2 th product manager), inggris aktif, bisa mengoperasikan komputer (MS Office, internet application, ERP Navision by microsoft). Kalau ada info lowongan pekerjaan di bidang tsb dan ada yg membutuhkan bisa kontak saya via  nomor 081234404045 atau by email : azzamku1103@gmail.com).
Thanks,

Regards,


Condro SWWK

Minggu, 14 Januari 2018

PANGKAL PERCERAIAN ADALAH PERTEMUAN

Pangkal perceraian adalah pertemuan; pertemuan yang salah! Mari kita jujur, mari kita terbuka, mari kita introspeksi; seperti apakah niat atau maksud kita berumahtangga dengan pasangan kita? Benarkah jodoh di tangan TUHAN?

Kalau kita Kristen dan memeriksa Alkitab, maka kita takkan pernah menemukan kalimat maupun konsep bahwa TUHAN menjodohkan kita. Yang ada di Alkitab, mari kita periksa:

Kej. 2:24Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Laki-laki bersatu dengan istrinya. Hukum atau konsep ini adalah universal, untuk semua manusia, bukan cuma untuk orang Kristen saja. Artinya, istri adalah pilihan kita, bukan pilihan TUHAN, terkecuali Adam dengan Hawa. Hanya Adam dan Hawa saja yang dijodohkan TUHAN.

Yang kedua adalah kisah perkawinan Abraham dengan Hagar yang melahirkan Ismael. Siapakah yang menjodohkan Abraham dengan Hagar? Tidak lain adalah Sarai, istri pertama Abraham, dan TUHAN menolak Ismael sebagai anak Abraham.

Kejadian 2:24 menetapkan dua orang menjadi satu, tapi Abraham mempunyai istri sampai tiga, Yakub mempunyai istri dua dengan dua gundik, Daud dan Salomo mempunyai banyak istri dan banyak gundik. Mengapa ada sebutan gundik untuk sama-sama perempuannya dan sama-sama melahirkan anaknya? Apakah gundik bukan termasuk jodoh?

Kejadian 6:1

Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,
6:2maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.

Kata ayat di atas; "mereka mengambil istri siapa saja yang disukai mereka". Jadi, istri bukanlah pilihan TUHAN, tapi pilihan kita sendiri. Karena itu tidak benar jika dikatakan jodoh itu dari TUHAN. Konsep itu bukan berasal dari Alkitab, bukan berasal dari Kristen.

Mat. 19:6Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Firman TUHAN katakan: "Dipersatukan ALLAH". Apa artinya? Artinya adalah setiap istri yang kita bawa kepada TUHAN akan diterima oleh TUHAN, akan diberkati, akan dikuduskan sebagai istri kita. Siapapun perempuan yang kita jadikan istri, entah mantan pelacurpun, TUHAN bersedia menerimanya, sebagaimana kata rasul Paulus;

1Kor. 7:14Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.

Jika ada perempuan Kristen yang bersuami orang Islam, TUHAN tidak keberatan, TUHAN tidak menolaknya. Begitu pula jika ada laki-laki Kristen yang beristri orang Islam, TUHAN juga tidak keberatan. Pasangan beda agama tidak akan dianggap najis atau haram. Boleh, itu.

Dina, anak perempuan Yakub dikawini Sikhem, setelah Sikhem memperkosanya. Masakan TUHAN menyuruh Sikhem memperkosa Dina, jika jodoh di tangan TUHAN? Tentu tidak klop.

Sering kali jodoh dikarenakan hawa nafsu berahi, karena parasnya yang cantik, karena kekayaannya, karena kedudukannya, karena dijodohkan orangtua, karena dijodohkan makcomblang, karena usia telat kawin maka dicarilah istri secara awur-awuran; masakan TUHAN hadir di maksud-maksud itu? Masakan jodoh yang tidak dimintakan pada TUHAN, seperti Ishak yang dimintakan pada TUHAN, disebut jodoh di tangan TUHAN?

Begitu pula dengan peristiwa-peristiwa ajaib, tak masuk akal, faktor-faktor kebetulan yang melatarbelakangi riwayat perkawinan kita sehingga mengesankan TUHAN-lah yang menjodohkan kita, bukanlah mesti berasal dari TUHAN. Setiap hal yang tidak membawa kemuliaan bagi nama TUHAN, bukanlah berasal dari TUHAN. Kesan-kesan, perasaan dan analisa pikiran kita tidak mesti benar untuk mengaitkannya dengan TUHAN.

Nah, berbagai macam motivasi perkawinan sebagaimana yang saya sebutkan di atas, apakah bisa dipakai sebagai modal perkawinan atau rumahtangga yang berbahagia? Apakah kekayaan, kecantikan, dan hawa nafsu bisa menghantarkan rumahtangga pada kebahagiaan? Jelas, tidak mungkin! Itu semua bukan komponen buat keharmonisan keluarga.

Jadi, timbulnya perceraian bisa dipastikan akibat dari salah pertemuan atau pertemuan yang salah. Dan itu termasuk kasus perceraian yang menimpa diri saya, harus jujur saya akui sebagai akibat dari pertemuan yang salah. Dan jika orang berumahtangga di usia dewasa saja bisa berantakan, bisa salah pertemuan, lebih-lebih lagi yang membentuk rumahtangga di usia yang belum benar-benar dewasa. Atas dasar pengalaman atau hikmat apakah dia memilih pasangannya? Saya kawin di usia 23 tahun, apakah itu usia dewasa untuk sebuah perkawinan? Saya pikir masih belum benar-benar dewasa, masih belum benar-benar matang.

Tapi saya tak pernah menyesalkan baik pertemuan maupun perceraian itu. Awal dan akhir, kepala dan ekor, sudah selesai, sudah terselesaikan dengan baik. Kini keadaan saya sudah netral, sudah terbebas dari lingkaran kesalahan. Saya bersama TUHAN, saya benar-benar menikmati kebahagiaan yang tiada taranya. TUHAN adalah jodoh saya. Dan saya berharap semua orang berjodoh dengan TUHAN! Amien!

Hasil gambar untuk gambar ahok dan veronica pacaran

Sabtu, 13 Januari 2018

BOLEHKAH KRISTEN BERCERAI?

Seperti orang yang berjalan sambil membawa barang berat, pada akhirnya akan berhenti dan menjatuhkan barang bawaannya itu karena kelelahan, demikianlah akhir-akhir ini media massa dihebohkan dengan berita gugatan cerai Ahok, mantan gubernur DKI Jakarta, terhadap istrinya; Veronica Tan.

Hasil gambar untuk gambar orang membawa barang berat kecapaian

Dulunya sebagai pejabat tentunya dituntut untuk menampilkan kehidupan rumahtangga yang harmonis. Jika tidak demikian maka gugurlah cita-cita Ahok dalam karier politiknya. Tidak mungkin bisa menduduki jabatan gubernurnya. Karena itu Ahok berusaha sedemikian rupa menahan gejolak hati dan rumahtangganya. Sebab selain untuk keperluan cita-cita, sebagai orang beragama, sebagai suami dan laki-laki yang bertanggungjawab, tentu tidaklah mudah untuk memutuskan perceraian. Dalam Kristen ada "hantu" yang melarang perceraian. Terlebih Roma Katolik sangat menentang terjadinya perceraian. Gereja tak mungkin menerbitkan surat cerai sekalipun nabi Musa bisa menerbitkan surat cerai;

Mat. 19:7Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"

Publik, khususnya para pendukung Ahok merasa kaget dan seperti disambar petir mendengar gugatan cerai Ahok tersebut. Sebab mereka tidak bisa membedakan antara pejabat dengan manusia biasa, antara Ahok sebagai gubernur dengan Ahok sebagai manusia biasa. Mereka hanya melihat satu sisi saja, yaitu penampilan-penampilan Ahok di luar rumah sebagaimana yang diliput media massa, tanpa melihat sisi lain yang tidak mungkin dipublikasikan, yaitu ketika Ahok sebagai manusia biasa, di rumahtangganya.

Menjadi pertanyaan adalah apakah kalau gubernur itu nggak ada masalahnya? Nggak ada pusingnya? Nggak ada godaannya? Nggak ada salahnya? Nggak ada kelemahannya? Nggak ada negatifnya? Nggak ada setannya? Yah, gubernur dan istrinya adalah manusia-manusia biasa, sama seperti kita.

Tapi kalau pertanyaannya: Bolehkah gubernur bermasalah? Bolehkah gubernur pusing? Bolehkah gubernur digodai? Bolehkah gubernur bersalah? Bolehkah gubernur lemah? Bolehkah gubernur negatif? Bolehkah gubernur kesetanan? Tentu saja jawabannya adalah: Tidak boleh! Undang-undang mengamanahkan seorang pejabat itu tidak boleh bercacat-cela.

Undang-undang pasal 6, nomor 23, tahun 2003, huruf j;

j.    tidak pernah melakukan perbuatan tercela;

Baik gereja Roma Katolik, gereja-gereja Kristen maupun pemerintah sangat anti terhadap perceraian. Pengetahuan masyarakat mengatakan orang Islam boleh cerai, orang Kristen tidak boleh cerai. Tapi apakah itu realistis, gereja melarang perceraian, apakah gereja melihat sisi-sisi kehidupan seorang manusia secara menyeluruh? Dan apa benar Alkitab, sebagai buku pedoman umat Kristen itu melarang perceraian? Mari kita lihat suara Alkitab.

Yang pertama adalah ELOHIM YAHWEH sendiri; DIA menganggap Israel sebagai "istri"-NYA, namun DIA tidak segan-segan menceraikan Israel;

Yer. 3:8Dilihatnya, bahwa oleh karena zinahnya Aku telah menceraikan Israel, perempuan murtad itu, dan memberikan kepadanya surat cerai; namun Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia itu tidak takut, melainkan ia juga pun pergi bersundal.

Yang kedua adalah peraturan nabi Musa;

Ulangan 24:1

"Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya,
24:2dan jika perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi isteri orang lain,
24:3dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi isterinya itu mati,
24:4maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.

Menurut peraturan nabi Musa, jika seorang istri kedapatan berzinah, suami boleh menulis surat cerai, dan jika sudah bercerai tidak boleh dijadikan istri kembali. Itu adalah suatu kebijaksanaan bagi aturan TUHAN yang melarang perceraian;

Mat. 19:6Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Larangannya memang ada, tapi kebijaksanaannya juga ada, yaitu dengan pengecualian karena zinah; ELOHIM YESHUA ha MASHIA sendiri menetapkannya begitu;

Matius 19:9Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."

Jadi, Alkitab tidak seperti gereja yang hanya mempunyai satu pintu saja, yaitu: Tidak boleh! Alkitab membolehkan, mengapa gereja tidak membolehkan? Bukankah Alkitab lebih tinggi kedudukannya daripada gereja manapun? Lebih lanjut rasul Paulus mengatakan;

1Korintus 7:10

Kepada orang-orang yang telah kawin aku--tidak, bukan aku, tetapi Tuhan--perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
7:11Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
7:15Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.

Rasul Pauluspun masih mempunyai pintu untuk perceraian. Dan sebenarnya sama saja pertanyaan: "bolehkah bercerai" dengan "bolehkah membunuh atau mencuri?" Jawabannya sudah pasti: "Tidak boleh!" Tidak mungkin TUHAN mengijinkan perceraian, sama juga tidak mungkin TUHAN mengijinkan seorang berbuat dosa. Tapi 'kan TUHAN tidak menutup mata dengan terjadinya pelanggaran, melainkan selalu memberikan jalan keluar, yaitu pengampunan?! Peraturannya: "Jangan berbuat dosa!" Tapi jika ada dosa ada pengampunannya. Ada sakit, ada obatnya! Jangan membuat jalan buntu!

Gereja jangan memeluk perampok yang bertobat, tapi hanya gara-gara jemaatnya bercerai lalu dikucilkannya. Sama-sama salahnya, ya harus sama-sama penerimaannya.

Jadi, yang membuat aturan melarang perceraian itu gereja, bukan Alkitab. Manusia, bukan TUHAN!

Kis. 5:29Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.

Selasa, 09 Januari 2018