Rabu, 23 Agustus 2017

3 PENGALAMAN DEJA VU - 2

Ketika masalah rumahtangga saya berada di persimpangan jalan; bisa ke kiri bisa ke kanan, bisa terus atau bisa buyar, saya berikan pilihan kepada istri: "Jika kamu masih mengharapkan saya, maka saya batalkan niat saya menjadi penginjil. Sebab dengan banyak anak tak mungkin cukup jika mengharapkan dari penginjilan. Tapi jika kamu sudah tak mengharapkan saya, maka saya akan terjun secara total ke penginjilan".

Apa yang ada di benak saya ketika itu? Saya sadar bahwa jika saya bersama istri, TUHAN akan cemburu. Saya mengecewakan TUHAN. Tapi jika saya bersama TUHAN, masakan orang Kristen itu tidak bertanggungjawab atas istri dan anak-anaknya? Karena saya bingung maka saya lemparkan itu kepada istri.

Kel. 20:5Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

Istri berkali-kali memberikan jawaban menolak saya. Aneh! Tiba-tiba perasaan saya marah. Saya tersinggung. Harga diri saya sebagai laki-laki dilecehkan oleh penolakannya. Tapi mau marah secara ekspresi tak mungkin bisa saya lakukan, sebab itu jawaban dari pertanyaan saya sendiri. Akhirnya menggumpal dalam pikiran saya, membuat saya limbung, serba salah! Saya penasaran sekali!

Antara logika dengan perasaan berperang hebat, seperti buah simalakama, jika dimakan bapak mati, jika tidak dimakan ibu mati. Secara logika, ini adalah sebuah kesempatan emas untuk menjadi penginjil, untuk melayani TUHAN, sebab pikiran ini sudah penat, sudah lelah setiap hari bertengkar dengan istri. Dilanjutkan rumahtangga apakah terjamin takkan ribut lagi? Tak ada jaminan! Tapi sesungguhnya saya masih sangat mencintainya. Berat rasanya jika saya harus meninggalkan dia.

Jika istri saya menolak melanjutkan rumahtangga dengan saya, itu masih ada logikanya, sebab kita sama-sama sudah penat, sudah capek dengan pertengkaran yang tiada remnya. Tapi namanya ini menyangkut perasaan cinta, jelas saya ada rasa cemburu dengan penolakannya itu.

Seperti itulah perasaan saya di tahun-tahun pertama. Saya seperti seekor kambing yang dituntun gembala berjalan di padang gurun. Disepanjang jalan tak ada rumput; mau dibawa ke mana saya? Tak jelas! Tapi setelah di padang rumput hijau, barulah saya mengerti bahwa gembala saya adalah gembala yang baik

Mazmur 23:1

Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
23:2Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
23:3Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
23:4Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
23:5Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
23:6Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Jika orang bepergian, yang penting itu bukan "dari"-nya, tapi "sampai"-nya. Jika orang membangun rumah, yang penting itu bukan ketika masih berantakan karena sedang dibangun, tapi ketika rumah itu telah jadi. Jika lukisan, yang penting itu bukan ketika baru mulai melukis, tapi setelah lukisan itu jadi.

Masa lalu saya buruk, tak apa, asal masa kini saya adalah berkat, daripada masa lalu berkat tapi masa kininya kutuk, seperti yang dijalani oleh para koruptor. Di saat kedudukan di puncak, di saat kekayaan di puncak, di saat usia di puncak, tiba-tiba harus terbanting ke bawah. Lebih baik penjahat yang menjadi pendeta daripada pendeta yang menjadi penjahat.

Sebagai penginjil saya sudah memasuki perhentian(Sabat). Saya sudah mengerti artinya uang, kedudukan dan kehormatan. Karena itu saya sudah tak lagi mengejarnya. Saya sudah kaya sekalipun tak punya uang, sebab TUHAN lebih dari uang. Saya sudah berkedudukan yang tertinggi di antara manusia, sebab seorang penginjil adalah imamat yang rajani. Dan saya sudah sangat terhormat oleh sebab nama saya dikenal oleh Sang Khalik semesta alam.

Saya sudah menemukan damai sejahtera, di saat kebanyakan orang masih berusaha mencari-carinya di antara timbunan pekerjaan, di antara onggokan uang, di antara tumpukan popularitas. Saya adalah pelari yang sudah mendahului mencapai garis finish. Koq saya tahu kalau saya sudah mencapai garis finish? Perasaankah? Bukan, tapi Alkitab yang memberitahukan. Tapi masih ada satu syarat yang harus saya lengkapi, yaitu kesetiaan sampai mati.

Ibr. 3:14Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.

Hasil gambar untuk gambar pasangan yang sedang ngambek


Tidak ada komentar: