Senin, 31 Juli 2017

BELANDA PERGI, JAWA DATANG

Ini bukan tulisan yang berniat SARA - Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan, tapi tulisan tentang kenyataan, sebab sepeninggal bangsa Belanda, negara Indonesia yang 35 propinsi ini secara berturut-turut dipimpin oleh presiden orang Jawa. Mulai dari Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Megawati, SBY dan kini Jokowi, semuanya adalah orang-orang sesuku saya: Jawa. Padahal yang disebut Indonesia adalah termasuk Batak, Manado, Minang, Palembang, Riau, Lampung, Ambon, Papua, Aceh, dan lain-lainnya. Saya orang Jawa juga. Tapi saya sama sekali tak bangga dengan presiden Jawa, sebab saya termasuk orang yang disengsarakannya. Masak semakin hari, semakin tua, semakin maju, semakin kaya, tapi bernapas saja semakin susah.

Cobalah hentikan bercerita bahwa Belanda pernah angkat senjata terhadap kita, sebab yang kita lihat sehari-hari yang menenteng senjata ke sana ke mari, tembak sana tembak sini, adalah polisi dan tentara Indonesia, bukan orang Belanda.

Cobalah hentikan bercerita bahwa Belanda pernah mengambil rempah-rempah dan hasil bumi kita. Itu dulu! Kita tidak hidup di zaman dulu. Tapi kini kita megap-megap oleh penghisapan besar-besaran ekonomi rakyat. Uang rakyat seperti air sumur yang disedot ke atas dengan pompa air Jet Pump, sampai-sampai kekeringan. Pemerintah menekan perpajakan ke pengusaha. Pengusaha membebankannya ke harga barang-barangnya, maka melambunglah harga barang-barang. Jadi, jangan main sihir dan main tipu bahwa pemerintah tidak menekan rakyat kecil, melainkan menekan pengusaha kaya. Pemerintah memukul orang kaya, orang miskin yang teriak kesakitan. Orang kaya tak berkurang sedikitpun kekayaannya, malah semakin bertambah kaya.

Di zaman Soekarno, nilai tukar rupiah terhadap dolar adalah Rp. 1,- perdolarnya. 1:1, setara. Di zaman Soeharto, nilai kursnya Rp. 2.000,- hingga Rp. 8.000,- perdolarnya. Lha, sekarang koq malah semakin merosot hingga Rp. 13.300,-? Betapa hinanya jika rupiah itu diumpamakan sebagai orang Indonesia, sedangkan dolar diumpamakan sebagai orang Amerika. Masakan 1 orang Amerika sampai dikeroyok oleh 13.300 orang Indonesia? Memangnya itu Rambo?

Perbaikan ekonomi dari mana? Jika genteng bocor diperbaiki semakin bocor, di mana perbaikannya?

Orang mengambil berjuta-juta kubik pasir dari sungai. Berapakah orang membayar ke sungai? Gratis! Sungai tidak meminta bayaran serupiahpun. Yang dibayar adalah ongkos kuli, ongkos truk dan toko bangunan mengambil keuntungan. Nah, jika kuli di zaman itu bisa hidup dengan ongkos sedikit dan toko bangunan bisa kaya di zaman itu, dari mana pasalnya harga pasir bisa naik terus dari waktu ke waktunya? Pasti ada beban-beban yang ditambahkan sehingga nilainya naik terus.

Beras. Memangnya berapakah petani membayar harga beras ke sawah? Gratis! Sawah tak meminta bayaran serupiahpun untuk jasanya menumbuhkan padi. Tapi bagaimana harga beras bisa naik terus? Bagaimana tidak naik jika harga pupuk dinaikkan terus oleh pemerintah? Jangan bilang ada subsidi harga pupuk. Sebab acara subsidi itu adalah cara pejabat untuk bermain korupsi.

Tahun lalu saya membeli tanah seharga Rp. 100 juta. Tapi, sekarang saya bisa menjualnya seharga Rp. 200 juta. Dari mana penyebab kenaikan harga tanah tersebut? Apakah tanah itu melebar? Apakah tanah itu bertambah banyak? Lha koq naik harganya? Di zaman Soeharto harga rumah Rp. 10 juta saja, tapi sekarang rumah itu bisa seharga 1 milyar. Lha koq bisa?

Ooh, tahun 2014 saya memilih Jokowi apakah supaya Jokowi mencabut subsidi harga BBM? Apakah supaya Jokowi menaikkan harga barang-barang? Apakah supaya Jokowi membawa rupiah ke angka Rp. 13.300,- perdolar? Apakah supaya Jokowi meningkatkan angka pengangguran? Apakah supaya Jokowi meningkatkan jumlah fakir miskin dan rakyat terlantar? Apakah supaya Jokowi meningkatkan jumlah utang negara? Apakah supaya Jokowi menonton operanya DPR menggerogoti KPK?

Kalau boleh saya bertanya: Masih mampukah membenahi Indonesia? Jika sudah tak mampu, letakkanlah jabatan itu, supaya maki-makian dan hujatan orang terhadapmupun terhenti. Supaya hujat dan maki-makian orang dialihkan ke penggantimu. Saya kasihan jika kamu dihujat dan dimaki-maki orang terusan. Tapi tidaklah salah orang yang memaki-maki dan menghujat itu, sebab kakinya terinjak hingga kesakitan. Orang bukan membenci Jokowi, tapi membenci pemimpin bangsa yang lalim.

Kalau Indonesia memang berperang dengan Belanda, coba carilah di Google Maps, di mana letak negeri Belanda, maka arahkanlah moncong senjata anda ke sana, jangan ke sini arahnya. Jangan bangsa sendiri diinjak-injak dan dimusuhi. Ayo, perangilah Belanda, saya dukung!

STOP! PENJAJAHAN DI NEGERI INI. Masak 72 tahun berjalan tak sampai-sampai, tak maju-maju dan menggunungkan tipu?


Hasil gambar untuk gambar memanggul beban

SERBA 8, ADA APA, YA?

17-8-2017  = 1 + 7 + 8 + 2 + 1 + 7 = 26 = 2 + 6 = 8.

Tanggal: 17; 1 + 7 = 8.

Bulan; 8.

Tahun 17; 1 + 7 = 8.

Jangan lupa bahwa kita masih dalam pengaruh Indonesia ke-71(2016-2017); 7 + 1 = 8.

Angka "8" kayak bentuk borgol. Apakah akan ada gelombang pemborgolan, sehubungan dengan undang-undang terorisme yang baru, sehubungan dengan Perppu Ormas dan memanasnya hubungan polisi vs Muslim? Entahlah!

Hasil gambar untuk gambar borgol


Tidak ada komentar: