Minggu, 31 Mei 2015

UPAYA-UPAYA PEMISKINAN

Ketika pabrik mobil sudah kelebihan produksi, maka dijalinlah persekongkolan dengan pemerintah daerah untuk mengadakan peremajaan angkutan kota. Mobil-mobil angkot yang lama dipaksa harus berganti yang baru, maka para pemilik angkot dibuat mempunyai utang baru, membayar bunga, bank tersenyum gembira. Kabar buruk bagi si sopir, uang setoran dinaikkan sekalipun tidak ada kenaikan harga BBM, ditengah-tengah semakin sepinya penumpang.

Kalau bupati menambah istri simpanannya, maka dibakarlah pasar di kota itu supaya ada proyek pembangunan pasar yang anggarannya bisa dibuat untuk membelikan rumah istri simpanannya yang baru. Para pedagang dibuat kebakaran jenggotnya. Ditengah persaingan usaha yang semakin ketat, ditengah biaya hidup yang semakin berat dan ditengah menumpuknya utang, kini harus ditambah dengan masalah baru: menempati kios darurat. Kios darurat, pelanggannya banyak yang lari, terjadilah perubahan besar bagi rejekinya. Masa depan adalah membayar kios yang baru yang harganya nggak karu-karuan mahalnya, dan harus mengangsur sekian puluh tahun.

Jika sebuah pasar berada di tengah kota dan dianggap mengganggu arus lalulintas kendaraan antar kota, maka pemerintah lebih memilih memindahkan pasar daripada memutarkan arus lalulintas atau membuatkan fly over. Para pedagang menjadi diusik rejekinya. Bayar kios baru dan harus memulai usahanya dari nol. Padahal dalam hati para pedagang itu berpikir: lebih baik disuruh membayar mahal kiosnya yang sekarang ini dari pada menempati kios baru sekalipun digratiskan. Sebab merubah kebiasaan atau tradisi itu sulit. Pelanggan sudah terlanjur terbiasa berbelanja ke tempatnya secara turun-temurun.

Dan jika pemerintah menilai para pedagang tidak tertib serta mengganggu keindahan kota, maka merekapun dipindahkan ke lokasi lain yang sekalipun digratiskan namun sepi.

Kita hidup di negeri yang susah untuk hidup.

Peremajaan Angkot Ibarat Buah Simalakama

http://berita.suaramerdeka.com/peremajaan-angkot-ibarat-buah-simalakama/

SEMARANG, suaramerdeka.com – Peremajaan angkutan kota (angkot) di kota Semarang, ibarat buah simalakama. Artinya, jika angkot itu diremajakan, butuh biaya tidak sedikit dari pemiliknya.
Adapun jika telah diremajakan menghabiskan biaya banyak, dikhawatirkan bisa tidak balik modal. Lantaran banyak masyarakat yang lebih memilih moda transport lain, baik bis atau kendaraan pribadi.
Hal itu disampaikan Wasi Darono Ketua Organda Kota Semarang, menanggapi razia angkot tak layak jalan dan upaya peremajaan angkot, Kamis (7/5). “Intinya, belum mampu. Karena angkot di kota Semarang itu urip ora mati yo ora (hidup tidak, mati ya tidak),”kata Wasi.
Harapan Wasi adalah antara organda dan pemkot duduk bersama pembangunan bersama melalui transportasi, supaya angkot bisa berkembang baik. “Namun nampaknya, trayek-trayek di masing jurusan terlalu over, sehingga tidak mampu mencari setoran, dan biaya perawatan agak susah,”tandasnya.

Pedagang menduga, Pasar Turi sengaja dibakar

source: http://daerah.sindonews.com/read/673212/23/pedagang-menduga-pasar-turi-sengaja-dibakar-1347957868

Pedagang menduga, Pasar Turi sengaja dibakar

http://daerah.sindonews.com/read/673212/23/pedagang-menduga-pasar-turi-sengaja-dibakar-1347957868

Sindonews.com - Hingga saat ini penyebab kebakaran pasar turi lama masih misterius. Namun para pedagang yakin kalau kebakaran Pasar Turi Lama ini sengaja dibakar. Dugaan tersebut menyusul temuan satu botol spirtus di stand Blok SS oleh pedagang bernama Zaenal.

"Kami minta agar kebakaran ini diusut tuntas. Sebab selama ini pengusutan kasus kebakaran cenderung setengah-setengah," kata Sekretaris Tim Pemulihan Pasar Turi Pasca Kebakaran (TPPPK) Kemas A Chalim, Selasa (18/9/2012).

Ia mencontohkan, penyebab kebakaran Pasar Turi Baru pada tahun 2007 juga belum tuntas.

Saat ini, kata Kemas, sejumlah pedagang yang berada di Pasar Turi Baru berada di Tempat Penampungan Sementara (TPS). Saat terbakar, sejumlah pedagang di TPS khawatir api akan merembet ke tempaat mereka.

Kemas juga menyoal terkait langkah pemadaman listrik yang terjadi di lapak-lapak pedagang TPS. "Kami ingin listrik ini dihidupkan karena tidak ada sangkut pautnya dengan Pasar Turi Lama," ujarnya.

Pedagang pantas marah, karena pedagang di TPS mendpatkan listrik dari PLN sementara Pasar turi Lama yang terbakar, pasokan listriknya dari genset.

Sementara itu, Wakil Ketua TPPPK Khoping menambahkan, kebakaran pasar turi lama ini berimbas kepada sejumlah pedagang di TPS. Sebagian pengunjung stand TPS adalah pengunjung Pasar Turi Lama.

“Apalagi masyarakat yang tidak tahu sudah pasti mikirnya bahwa Pasar Turi kini sudah terbakar habis semua," jelasnya.

Terkait munculnya opini dari pedagang bahwa kebakaran kemarin malam adalah disengaja. Menyusul ditemukannya botol sepirtus sebelum terbakar di stand Blok SS oleh Zaenal, salah satu pedagang tentunya membuat resah pedagang.

"Jika penyebabnya konsleting listrik sangat tidak mungkin. Karena, pedagangn Pasar Turi Lama menggunakan Genset bukan listrik PLN. Terlebih lagi menyusul ditemukan botol spirtus itu," tukasnya.


Pedagang Masih Enggan Pindah

http://www.radar-palembang.com/pedagang-masih-enggan-pindah/

tempat-penampungan-sementar

RADAR PALEMBANG – Rencana pembangunan Pasar tradisional 10 Ulu masih terkendala dengan masih banyaknya pedagang yang enggan dipindahkan ketempat penampungan sementara yang terletak dipinggir sungai musi.
Dari sekitar 215 pedagang baik itu pedagang ikan laut dan sungai, sayuran dan pakaian jadi yang selama berjualan dipasar tradisional 10 Ulu baru sebagian kecil saja yang berkenan pindah ketempat penampungan sementara. Banyaknya pedagang yang enggan berpindah ketempat penampungan sementara dikarenakan lokasinya yang dianggap jauh serta tempatnya yang kurang nyaman dan luas sehingga para pedagang tersebut takut kehilangan pelanggan mereka. “ tempatnya terlalu jauh, takutnya nanti tempat penampungan sementara tersebut sepi, kalau disini masih rame karena banyak dipinggir jalan utama,” Ujar salah seorang pedagang pakaian yang enggan namanya disebutkan (7/10).
Disamping itu juga, bagi pedagang yang rumahnya terletak dikawasan pasar 10 Ulu, lebih memilih membawa barang dagangannya pulang ke rumah dibandingkan menempati lapak yang telah disiapkan di penampungan sementara. Kerena menurut mereka lapak yag telah disiapkan terlalu kecil sehingga tidak bisa memuat semua barang dagangan mereka.
“Saya mendingan membawa barang saya pulang kerumah, dan berjualan didepan rumah saya saja, dari pada saya berjualan ditempat penampungan sementara,” kata salah seorang pedagang sayuran yang namanya juga enggan disebutkan.
Sementara itu Iqbal Pengawas Lapangan dari PD Pasar Palembang Jaya yang mengawasi pembuatan tempat penampungan pedagang sementara mengatakan, seharusnya hari selasa kemarin tempat pasar sementara tersebut sudah selesai dirampungkan, namun karena masalah, makam diperkirankan hari rabu ini pasar tersebut sudah bisa dioperasikan. Namun dari 200 lebih jumlah lapak yang telah disediakan masih sedikit pedagang yang mau pindah.
“Padahal lapak ini gratis bagi semua pedagang yang sudah terdaftar dipasar 10 Ulu, hendaknya para pedagang untuk segera pindah, agar pembangunan pasar 10 Ulu bisa berjalan dengan lancar,”jelasnya (mil)


Dibentuk Tim Khusus Penataan Pasar Tumpah

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/dibentuk-tim-khusus-penataan-pasar-tumpah/

BREBES- Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkab Brebes bersama instansi terkait, kini membentuk tim khusus untuk melakukan penataan para pedagang yang berada di pasar tumpah sepanjang jalur mudik dan balik Lebaran.
Upaya itu dilakukan sebagai persiapan menghadapi arus mudik dan balik Lebaran mendatang agar pasar tumpah tidak lagi menjadi pemicu titik kemacetan. ”Kami bentuk tim khusus yang meliputi Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Satpol PP, Polsek serta instansi terkait lainnya. Ini sebagai langkah awal kami dalam persiapan arus mudik dan balik Lebaran tahun ini,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkab Brebes Zaenudin KA, kemarin.
Dia menjelaskan, tim khusus itu akan bertugas menata pegadangan di pasar-pasar tumpah sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas saat mudik dan balik Lebaran. Mereka juga akan menyosialisasikan kepada para pedagang terkait penataan tersebut. ”Selama ini, pasar tumpah selalu menjadi pemincu kemacetan saat arus mudik dan balik Lebaran di Brebes, baik itu di jalur pantura, tengah maupun selatan. Karena itu, kami melakukan persiapan agar para pedagang bisa ditata dan arus lalu lintas lancar,” terangnya.
Pemicu Kemacetan Menurut dia, ada 14 pasar tumpah yang menjadi sasaran penataan melalui tim khusus tersebut. Di jalur pantura misalnya, ada beberapa titik pasar tumpah yang harus mendapat perhatian serius karena memang menjadi pemicu kemacetan. Di antaranya Pasar Induk Brebes, Pasar Limbangan, Pasar Bulakamba, Pasar Tanjung, dan Pasar Losari. Sedangkan di jalur tengah yang menjadi perhatian adalah Pasar Dermoleng (Ketanggungan), dan Pasar Larangan. ”Sudah kami petakan, titik pasar tumpah mana saja yang akan menjadi sasaran penataan,” tandasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, pola penataan pedagang di pasar tumpah itu nantinya disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Apakah pedagang ditarik ke dalam pasar atau dipindahkan di sekitar pasar yang lokasinya tidak mengganggu arus lalu lintas. ”Kalau soal pola penataan, kami sesuaikan dengan kondisi di lapangan. Yang jelas, pada H-7 Lebaran, semua pasar tumpah ini kami targetkan sudah tertata,” jelasnya. (H38-60)



Mengapa tak dibangun fly over saja?

Tidak ada komentar: