Minggu, 31 Mei 2015

PENELITIAN DAMPAK ALFAMART DAN INDOMART - 4

Pak Sonny;

Hehehe....sebagiian mereka adalah toko kelontong yang berubah jd penjual baksa, friedchiken, burjo dll pak.

Sudah pernah sy cerita kalau toko kelontong gede ygg pertama ada di perempatan itu tutup. Ownernya saya tanyaa apa tdk rugi? Dijawab malah senang. Mengapa? Krn harga tanahnya naek 3x lipat. Dia siap2 mau jual rumah dan dipecah jadi 3 rumah sesuai 3 anaknya. Masing2 bth rumah.

Sy bilang mosok dijual skrg? Dia jawab ndak sekarang pak. Lantas hidup dari mana? Eh dijawab enteng. Sy ganti jualan. Skrg jualan kue basah.

Dan ternyata laris pak...

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Setiap persaingan pasti menimbulkan pembunuhan. Tapi kalau sama-sama toko di kampungnya, itu persaingan yang seimbang. Mereka kulak dari tempat yang sama, dengan harga yang sama, serta dengan cara yang sama pula. Tapi kehadiran Alfamart dan Indomart, itu bukanlah tandingan mereka.

Tentang terciptanya keramaian di wilayah tersebut bukanlah semata-mata oleh kehadiran Alfamart dan Indomart, tapi oleh kesepakatan bersama secara tak tertulis dan tak terucapkan, bahwa mereka sebaiknya meramaikan wilayah itu dari pada jauh-jauh ke kota. Sebab wilayah itu wilayah yang padat tapi yang jauh ke mana-mana. Ke bandara Juanda jauh, ke Sidoarjo jauh, ke Surabaya juga jauh. Kalau nggak salah 7 kilometer ke segala jurusan?!

Alfamart dan Indomart datang ke situ adalah atas "undangan" masyarakat di situ. Undangannya adalah jumlah kepadatan penduduknya.  Itulah gula yang mendatangkan semut.

Bentuk undangan lainnya adalah nama besar Alfamart serta mental penduduk di sana yang tidak Pojapan - Pola belanja Pancasila.

Tentang bergantinya jualan, dari toko kelontong menjadi kue basah, itu adalah kebangkitan dari kematian. Toko kelontongnya mati kalah saingan, sehingga ganti haluan jualan kue basahan. Itulah yang saya bilang terjadi pembunuhan.

Tidak ada komentar: