Minggu, 31 Mei 2015

ANEH JIKA PENGUJIAN DEMIKIAN RUWET

Masak suatu metode pengujian bisa mengubah non kimia menjadi kimia atau kimia menjadi non kimia? Memangnya pengujian model apaan itu, koq nggak masuk akal?! Begini sajalah, singkirkan saja laboratorium itu, pakai metode sederhana saja; dilihat, dicium, dibakar dan dimasak. Jika sama sebagaimana biasanya, ya sudah, saya akan terima sebagai tidak ada beras plastik. Tapi jika ada perbedaan, barulah dilakukan uji laboratorium.

Dan saya yakin dipaksakannya uji laboratorium kepada banyak lembaga seperti saat ini menyatakan pengujian fisiknya terdapat perbedaan; dari bentuk berbeda, dari aroma berbeda, ketika dibakar berbeda dan ketika dimasak berbeda. Ada yang mencurigakan, kecuali polisi-polisi itu dungu atau buta matanya. Karena itu beras plastik itu ada, entah penyebarannya baru sedikit maupun sudah meluas. Saya yakin dengan beberapa pemberitaan media massa; Bekasi, Depok dan Yogyakarta.

Yang aneh, mengapa polisi tidak memulai pengumumannya dari secara fisiknya; dilihat, dicium, dibakar dan dimasak, melainkan langsung pada hasil uji laboratoriumnya? Seharusnya ada kata pendahuluannya, alasan mengapa perlu diuji laboratorium, seperti: "diduga........" sebagai awal untuk menindaklanjutinya. Jadi, sekarang begini saja: umumkanlah secara fisiknya seperti apa, supaya masyarakat tidak terlampau dibingungkan.

Yang jelas antara ciptaan TUHAN dengan buatan manusia ada perbedaannya. Jika ciptaan TUHAN tidak dicetak dengan cetakan, sedangkan buatan manusia harus melalui cetakan. Karena itu 1.000 buah mangga ada 1.000 macam bentuknya. Tak ada mangga yang kembar. Tapi buatan manusia 1.000 biji adalah 1 bentuk saja, karena dicetak, kecuali manusia membikin onde-onde atau pisang goreng.


Ahli Kimia UI Meminta Sucofindo dan BPOM Duduk Bersama  

http://tekno.tempo.co/read/news/2015/05/30/061670772/Ahli-Kimia-UI-Meminta-Sucofindo-dan-BPOM-Duduk-Bersama

TEMPO.CO Depok - Pakar toksikologi kimia Universitas Indonesia Budiawan mengatakan untuk memastikan akurasi hasil data pengujian beras yang diduga mengandung plastik harus dilihat dari tiga aspek, yaitu badan atau lembaga penguji harus memiliki pengetahuan, skill, dan pengalaman.

Ia melihat Sucofindo serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan memiliki kemampuan untuk mengujinya. Tinggal, kata dia, melihat metode apa yang digunakan dalam meneliti beras tersebut. "Masing-masing punya kompetensi dan sertifikasi untuk menguji dan diakui. Bahkan, memiliki ISO," ia menjelaskan.

Namun perbedaan hasil dari kedua penelitian lembaga tersebut bisa jadi disebabkan Indonesia belum memiliki standar baku untuk melakukan pengujian kandungan plastik tersebut. World Health Organisation mempunyai standar OECD yang berlaku di Eropa untuk mengukur kandungan plastik. Selain itu, ada juga FDA untuk mengukur kandungan dalam makanan. "Kedua metode itu bisa diadopsi untuk melakukan verifikasi dan validasi kandungan plastik dalam makanan," ucapnya.

Untuk menuntaskan masalah ini, ia menyarankan pemerintah duduk bersama Sucofindo dan BPOM untuk melakukan uji ulang dengan metode yang sama. Sebab, ada macam-macam cara untuk menguji kandungan plastik. Paling mudah dengan menggunakan infrared untuk menganalisis gugus utama karakteristik plastiknya.

Intinya, ia kembali menegaskan, Sucofindo dan BPOM harus duduk bersama untuk kembali menguji kandungan plastik agar kesimpangsiuran beras sintetis hilang. Ia menyarankan kedua lembaga tersebut menggunakan metoda FTIR, yaitu alat khusus untuk menentukan gugus utama monumer dalam plastik, sebagai penyusun utama polimer yang ada dalam plastik.

Sebab, menurut dia, penelitian kimia ini merupakan cara yang eksak dan hasilnya pasti.

"Bisa terukur pengujian ini dengan pasti, terverifikasi, dan tervalidasi. Asal duduk bersama," ia menjelaskan.

Sucofindo, kata Budiawan, merupakan lembaga jasa untuk pengujian berbagai macam hal, yang hasilnya juga bisa dipertanggungjawabkan. Sedangkan BPOM juga lembaga yang memang fokus untuk meneliti kandungan dalam obat dan makanan. "Jadi dua-duanya bisa dipertanggungjawabkan. Untuk masalah ini, lakukan uji ulang sampel yang selama ini diduga beras sintetis dengan duduk bersama."

Ia menuturkan selama ini juga terjadi kesimpangsiuran mengenai beras tersebut. Budiawan mempertanyakan apa yang dimaksud dengan beras sintetis. Apakah terbuat dari benar-benar plastik atau ada campuran plastik. Sebab, ada juga daging sintetis yang bisa dimakan untuk mereka yang vegetarian. "Harus benar-benar jelas apa yang dimaksud beras sintetis," ujarnya.

IMAM HAMDI

Tidak ada komentar: