Kamis, 30 April 2015

TAK ADA SULAPAN SEMALAM

Saya bukan orang gila yang menuntut presiden Jokowi membuat sulapan semalam langsung jadi. Semua hal memerlukan waktu proses, dan rentang waktunya berbeda-beda. Kalau menanam jagung ya 3 bulan panen. Kalau menanam mangga ya bisa beberapa tahun baru berbuah. Kalau ibu hamil ya 9 bulan 10 hari baru melahirkan. Saya tahu itu. Tapi pertanyaannya adalah apakah yang harus kita tunggu itu? Tumbuhnya rumput, atau berbuahnya mangga? Bibit berkwalitas seperti apa yang ditanam oleh Jokowi? Jika bibit mangga yang masam, yang tidak bermutu, ya buat apa kita tunggui?!

Subsidi BBM dicabut sehingga harganya disesuaikan dengan harga minyak dunia? Itu mengerikan sekali! Jika harga BBM dunia mencapai Rp. 20.000,- perliter, sementara pemerintah lepas tangan, betapa mengerikannya hidup saya. Jika KPK masih tetap dipimpin oleh Ruki, kapan Indonesia hendak memberantas korupsi?

Jelas, saya tidak mau dipimpin oleh presiden yang pembunuh 14 jiwa dalam kurun 6 bulan, presiden yang tidak memihak rakyat, presiden yang menghisap habis ekonomi rakyat seperti kencangnya pompa air Jetpump menyedot air, dan presiden tukang manipulasi serta tukang bohong. Lebih-lebih presiden petugas partai yang menghalalkan koruptor menduduki jabatan penting di negeri ini. Itu membahayakan sekali bagi hidup pribadi saya maupun hidup bangsa ini.

Lebih baik saya melawan daripada mendiamkannya. Saya diam saja? Tidak mungkin! Saya hamba TUHAN yang memegang amanah untuk menegakkan keadilan dan membela fakir miskin. Saya menunggu kemauan rakyat seperti apa. Jika rakyat diam, sayapun diam. Tapi jika rakyat melawan, saya pasti akan ikut melawan.

Tidak ada komentar: