Minggu, 14 Januari 2018

PANGKAL PERCERAIAN ADALAH PERTEMUAN

Pangkal perceraian adalah pertemuan; pertemuan yang salah! Mari kita jujur, mari kita terbuka, mari kita introspeksi; seperti apakah niat atau maksud kita berumahtangga dengan pasangan kita? Benarkah jodoh di tangan TUHAN?

Kalau kita Kristen dan memeriksa Alkitab, maka kita takkan pernah menemukan kalimat maupun konsep bahwa TUHAN menjodohkan kita. Yang ada di Alkitab, mari kita periksa:

Kej. 2:24Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Laki-laki bersatu dengan istrinya. Hukum atau konsep ini adalah universal, untuk semua manusia, bukan cuma untuk orang Kristen saja. Artinya, istri adalah pilihan kita, bukan pilihan TUHAN, terkecuali Adam dengan Hawa. Hanya Adam dan Hawa saja yang dijodohkan TUHAN.

Yang kedua adalah kisah perkawinan Abraham dengan Hagar yang melahirkan Ismael. Siapakah yang menjodohkan Abraham dengan Hagar? Tidak lain adalah Sarai, istri pertama Abraham, dan TUHAN menolak Ismael sebagai anak Abraham.

Kejadian 2:24 menetapkan dua orang menjadi satu, tapi Abraham mempunyai istri sampai tiga, Yakub mempunyai istri dua dengan dua gundik, Daud dan Salomo mempunyai banyak istri dan banyak gundik. Mengapa ada sebutan gundik untuk sama-sama perempuannya dan sama-sama melahirkan anaknya? Apakah gundik bukan termasuk jodoh?

Kejadian 6:1

Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,
6:2maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.

Kata ayat di atas; "mereka mengambil istri siapa saja yang disukai mereka". Jadi, istri bukanlah pilihan TUHAN, tapi pilihan kita sendiri. Karena itu tidak benar jika dikatakan jodoh itu dari TUHAN. Konsep itu bukan berasal dari Alkitab, bukan berasal dari Kristen.

Mat. 19:6Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Firman TUHAN katakan: "Dipersatukan ALLAH". Apa artinya? Artinya adalah setiap istri yang kita bawa kepada TUHAN akan diterima oleh TUHAN, akan diberkati, akan dikuduskan sebagai istri kita. Siapapun perempuan yang kita jadikan istri, entah mantan pelacurpun, TUHAN bersedia menerimanya, sebagaimana kata rasul Paulus;

1Kor. 7:14Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.

Jika ada perempuan Kristen yang bersuami orang Islam, TUHAN tidak keberatan, TUHAN tidak menolaknya. Begitu pula jika ada laki-laki Kristen yang beristri orang Islam, TUHAN juga tidak keberatan. Pasangan beda agama tidak akan dianggap najis atau haram. Boleh, itu.

Dina, anak perempuan Yakub dikawini Sikhem, setelah Sikhem memperkosanya. Masakan TUHAN menyuruh Sikhem memperkosa Dina, jika jodoh di tangan TUHAN? Tentu tidak klop.

Sering kali jodoh dikarenakan hawa nafsu berahi, karena parasnya yang cantik, karena kekayaannya, karena kedudukannya, karena dijodohkan orangtua, karena dijodohkan makcomblang, karena usia telat kawin maka dicarilah istri secara awur-awuran; masakan TUHAN hadir di maksud-maksud itu? Masakan jodoh yang tidak dimintakan pada TUHAN, seperti Ishak yang dimintakan pada TUHAN, disebut jodoh di tangan TUHAN?

Begitu pula dengan peristiwa-peristiwa ajaib, tak masuk akal, faktor-faktor kebetulan yang melatarbelakangi riwayat perkawinan kita sehingga mengesankan TUHAN-lah yang menjodohkan kita, bukanlah mesti berasal dari TUHAN. Setiap hal yang tidak membawa kemuliaan bagi nama TUHAN, bukanlah berasal dari TUHAN. Kesan-kesan, perasaan dan analisa pikiran kita tidak mesti benar untuk mengaitkannya dengan TUHAN.

Nah, berbagai macam motivasi perkawinan sebagaimana yang saya sebutkan di atas, apakah bisa dipakai sebagai modal perkawinan atau rumahtangga yang berbahagia? Apakah kekayaan, kecantikan, dan hawa nafsu bisa menghantarkan rumahtangga pada kebahagiaan? Jelas, tidak mungkin! Itu semua bukan komponen buat keharmonisan keluarga.

Jadi, timbulnya perceraian bisa dipastikan akibat dari salah pertemuan atau pertemuan yang salah. Dan itu termasuk kasus perceraian yang menimpa diri saya, harus jujur saya akui sebagai akibat dari pertemuan yang salah. Dan jika orang berumahtangga di usia dewasa saja bisa berantakan, bisa salah pertemuan, lebih-lebih lagi yang membentuk rumahtangga di usia yang belum benar-benar dewasa. Atas dasar pengalaman atau hikmat apakah dia memilih pasangannya? Saya kawin di usia 23 tahun, apakah itu usia dewasa untuk sebuah perkawinan? Saya pikir masih belum benar-benar dewasa, masih belum benar-benar matang.

Tapi saya tak pernah menyesalkan baik pertemuan maupun perceraian itu. Awal dan akhir, kepala dan ekor, sudah selesai, sudah terselesaikan dengan baik. Kini keadaan saya sudah netral, sudah terbebas dari lingkaran kesalahan. Saya bersama TUHAN, saya benar-benar menikmati kebahagiaan yang tiada taranya. TUHAN adalah jodoh saya. Dan saya berharap semua orang berjodoh dengan TUHAN! Amien!

Hasil gambar untuk gambar ahok dan veronica pacaran